FENOMENA HUKUM NEWS || CILACAP
Mengangkat filosofi Jawa "Rukun Agawe Sentosa, Crah Agawe Bubrah", Pemerintah Desa Banjarwaru, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, sukses menggelar Festival Adat dan Seni Budaya Sedekah Bumi pada Sabtu (20/06/2026).Gelaran tahunan ini menjadi magnet bagi ribuan warga yang memadati sepanjang rute kirab hingga area Pendopo Balai Desa Banjarwaru. Selain sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas melimpahnya hasil bumi, festival ini menjadi komitmen nyata dalam menjaga dan mewariskan kelestarian adat budaya Banyumasan kepada generasi muda.
Rangkaian ritual adat dimulai dengan kirab ratusan tenong yang dibawa oleh para petani dari rumah adat menuju Pendopo Balai Desa. Tenong-tenong tersebut berisi aneka sajian tradisional, mulai dari ayam ingkung hingga jajanan pasar. Tak ketinggalan, sebuah gunungan hasil panen yang megah turut dikirab sebagai simbol kemakmuran dan keberkahan tanah Banjarwaru.
Suasana kirab semakin semarak dengan kawalan drumband Banser Kecamatan Nusawungu, diikuti atraksi tari tradisional yang memukau penonton di sepanjang jalur kirab.
Nuansa sakral dan kultural kian kental saat Kepala Desa Banjarwaru, Mugi Prihantono, beserta istri, menyapa warga dari atas kereta kencana dengan mengenakan busana adat Jawa lengkap. Di belakangnya, Sekretaris Desa turut mengiringi dengan menunggangi kuda, menambah kemegahan parade budaya tersebut.
Agenda penting ini turut dihadiri oleh Camat Nusawungu, Oktavia Panji Setiawan, S.STP., M.AP., perwakilan dinas dari Pemerintah Kabupaten Cilacap, serta perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Dalam pidatonya, Kepala Desa Banjarwaru, Mugi Prihantono, menyampaikan apresiasi mendalam atas tingginya partisipasi dan semangat gotong royong masyarakat. "Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh warga Desa Banjarwaru yang telah bersatu padu menyukseskan festival ini. Mari kita resapi tema hari ini; menjaga persatuan, mempererat silaturahmi, dan merawat warisan leluhur. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kesehatan, umur panjang, dan rezeki yang berkah," tutur Mugi Prihantono.
Tema "Rukun Agawe Sentosa, Crah Agawe Bubrah" yang diusung tahun ini membawa pesan ideologis yang kuat bagi warga: bahwa kebersamaan akan melahirkan kekuatan dan kesejahteraan, sementara perpecahan hanya akan membawa kerugian.
Sebagai pemungkas rangkaian festival, pada Sabtu malam digelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Pertunjukan seni pedalangan khas Banyumasan ini sukses menyedot perhatian ribuan penonton yang bertahan hingga akhir acara.
Melalui festival budaya ini, Pemerintah Desa Banjarwaru berharap nilai-nilai luhur gotong royong, rasa syukur, dan kecintaan terhadap kearifan lokal tetap mengakar kuat dan lestari melintasi pergantian generasi.




